Klik disini untuk informasi dibawah yaa 👇👇👌👍😄
Mari Kita Dukung Gerakan Eliminasi TBC !!!
1. Apa itu TBC?
2. Bagaimana situasi TBC di Indonesia?
Situasi TBC di Indonesia tahun 2018 (data per 1 Mei 2019).
WHO memperkirakan insiden tahun 2017 sebesar 842.000 atau 319 per 100.000 penduduk sedangkan TB-HIV sebesar 36.000 kasus per tahun atau 14 per 100.000 penduduk. Kematian karena TB diperkirakan sebesar 107.000 atau 40 per 100.000 penduduk, dan kematian TB-HIV sebesar 9.400 atau 3,6 per 100.000 penduduk.
Dengan insiden sebesar 842.000 kasus per tahun dan notifikasi kasus TB sebesar 569.899 kasus maka masih ada sekitar 32% yang belum ternotifikasi baik yang belum terjangkau, belum terdeteksi maupun tidak terlaporkan. Dari angka insiden ini dilakukan perhitungan beban TB di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota. Untuk perhitungan beban TB di tingkat kabupaten/kota, Ditjen P2P telah menerbitkan Buku Panduan Penentuan Beban dan Target Cakupan Penemuan dan Pengobatan Tuberkulosis di Indonesia Tahun 2019-2024.
WHO memperkirakan ada 23.000 kasus MDR/RR di Indonesia. Pada tahun 2017 kasus TB yang tercatat di program ada sejumlah 442.000 kasus yang mana dari kasus tersebut diperkirakan ada 8.600-15.000 MDR/RR TB, (perkiraan 2,4% dari kasus baru dan 13% dari pasien TB yang diobati sebelumnya), tetapi cakupan yang diobati baru sekitar 27,36%.
Kemenkes RI (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia) kembali menggelar Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2018. Dalam rapat yang diselenggarakan di Tangerang, Banten, salah satu topik yang dibahas adalah percepatan eliminasi TBC (Tuberculosis).
Mengutip dari rilis yang dikeluarkan Kemenkes RI, Selasa (6/3/2018) data WHO Global Tuberculosis Report 2016, Indonesia menempati posisi kedua dengan beban TBC tertinggi di dunia. Disebutkan, tren insiden kasus TBC di Indonesia tidak pernah menurun. Banyak kasus TBC yang belum terjangkau dan terdeteksi, sekalipun sudah terdeteksi dan telah diobati namun belum dilaporkan.
Kepala Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Kemenkes, Siswanto menyebutkan berdasarkan studi yang dilakukan oleh Global Burden of Disease, TBC menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di dunia.
Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek saat Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakekesnas) di Tangerang Selatan, Banten. (Foto: Humas Kementerian Kesehatan RI)
Siswanto pun menyebutkan angka TBC di Indonesia berdasarkan mikroskopik sebanyak 759 per 100 ribu penduduk untuk usia 15 tahun ke atas. Adapun jumlah penderita TBC laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan, dan jumlah kasus di perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan.
Acara Rakerkesnas 2018 yang diselenggarakan Kemenkes RI ini akan berlangsung selama tiga hari, yakni dari 5-8 Maret 2018. Dalam acara bertajuk, "Sinergisme Pusat dan Daerah dalam Mewujudkan Universal Health Coverage melalui Percepatan Eliminasi Tuberculosis, Penurunan Stunting, dan Peningkatan Cakupan serta Mutu Imunisasi."
3. Bagaimana upaya pemerintah untuk menanggulangi kasus TBC di Indonesia?
Presiden Joko Widodo secara resmi membuka Pencanangan Gerakan Maju Bersama Menuju Eliminasi Tuberkulosis (TBC) 2030 yang dipusatkan di Cimahi Techno Park, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu, 29 Januari 2020. Presiden secara tegas menyatakan dukungan atas dilaksanakannya kegiatan tersebut, terutama mengingat pembangunan sumber daya manusia merupakan salah satu fokus kerja pemerintah dalam lima tahun ke depan.
"Saya ingin mendukung keras kegiatan ini, kegiatan bersama menuju eliminasi TBC di 2030. Karena percuma kalau masyarakat kita enggak sehat, merembetnya bisa ke mana-mana. Bisa ke pendidikan, bisa ke keberlanjutan dalam nanti bekerja, ke mana-mana," kata Presiden dalam sambutannya.
4. Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah penyakit TBC ini?
Terkait data Analisis Data Percepatan Eliminasi Tuberculosis pada pra-Rakerkesnas yang diselenggarakan sehari sebelum acara, Siswanto menyebutkan ada beberapa solusi yang dapat dilakukan guna mengatasi masalah TBC.
Solusi yang ditawarkan oleh Balitbangkes berupa peningkatan deteksi dengan pendekatan keluarga, menyelesaikan under-reporting pengobatan TBC dengan penguatan PPM, meningkatkan kepatuhan pengobatan TBC, Perbaikan sistem deteksi MDR TBC (Klinik MDR TBC dengan jejaringnya) dan akses terapi TBC MDR, serta edukasi TBC pada masyarakat dan perbaikan perumahan.
Referensi :













0 komentar:
Posting Komentar